RANCANGAN KADERISASI SUMBER DAYA MANUSIA KABINET KM ITB 2009-2010

Ramadhani Pratama Guna – 13407126

 

 

Masyarakat Madani

 

Gagasan akan sebuah tatanan masyarakat madani muncul dari sebuah tatanan masyarakat yang kondusif pada sebuah kota yang bernama Madinah. Saat itu Muhammad SAW, seorang Rasul membangun tatanan kehidupan tersebut dengan tiga langkah strategis, yang pertama yaitu membangun pondasi kuat keimanan, yang dicirikan dengan pembangunan masjid sebagai pusat peradaban Islami. Yang kedua, dengan mewujudkan aspek behavioral dengan mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Yang ketiga dengan mewujudkan aspek aturan/tatanan baku salah satunya dengan perjanjian-perjanjian dengan kaum non-muslim daerah tersebut.

 

Dari tiga strategi yang dilakukan Muhammad SAW pada waktu itu untuk membentuk masyarakat kondusif dan tatanan yang baik, maka kita dapat menurunkan ciri masyarakat madani:

1.       Ber-Tuhan dan mempunyai pondasi keimanan yang kuat (religius).

2.       Good behavior (professional dan intelek) pada tataran individu, yang meliputi keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial, berakhlak mulia, majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperadaban tinggi.

3.       Tatanan masyarakat humanis, yang meliputi damai, tolong menolong, dan toleran.

 

 

Tridharma Perguruan Tinggi

 

Ketika pertama kali diadakannya orientasi kemahasiswaan terpusat pada awal masuk kampus, tiap mahasiswa diberi pemahaman mengenai Tridharma Perguruan Tinggi, sebuah cita-cita besar perguruan tinggi tanah air untuk mewujudkan visi terbentuknya masyarakat madani yang telah dijelaskan di atas. Perwujudan itu diringkas dalam tiga tugas besar perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

 

Tiga tugas besar tersebut kemudian mengejawantah kepada karakter mahasiswa sebagai subjek sekaligus objek peradaban yang nantinya akan menjadi lokomotif-lokomotif dinamisasi masyarakat, menuju cita-cita besar, yaitu masyarakat madani. Dalam hal inilah, kita mengenal tiga peran mahasiswa:

1.       Agent of Change, yaitu agen-agen perubahan. Di sini mahasiswa befungsi sebagai subjek. Seorang agen-agen yang akan melaksanakan misi-misi yang telah ditelurkan untuk mewujudkan cita-cita besar peradaban.

2.       Guardian of Value, yaitu penjaga nilai. Nilai-nilai yang dibawanya sebagai seorang agent of change berupa misi-misi peradaban kemudian haruslah dijaga agar tetap melekat pada diri dan lingkungannya. Nilai-nilai ini merupakan sebuah kearifan yang menunjukkan ciri integritas seorang manusia peradaban.

3.       Iron Stock, untuk menjaga agar tatanan masyarakat yang telah terbentuk tidak luntur, lantas dibutuhkan regenerasi dan estafet misi. Untuk itulah, salah satu pentingnya kaderisasi.

 

 

Insan Akademis

 

Muhammad Hatta, adalah seseorang yang pertama kali menyebut istilah ini. Karakter para pelajar intelek dan cendikiawan seharusnya sesuai dengan karakter seorang Insan Akademis dalam mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi untuk pada akhirnya membangun cita-cita besar berupa masyarakat madani. Oleh karena itulah, dirumuskanlah karakter seorang Insan Akademis, yaitu:

1.       Peran untuk selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

2.       Peran yang akan muncul dengan sendirinya apabila mengikuti watak ilmu itu sendiri. Watak ilmu adalah selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah.

 

 

Rancangan Umum Kaderisasi KM ITB

 

Rancangan umum kaderisasi KM ITB yang dibuat oleh Kongres KM ITB sebenarnya tidak berbeda jauh dengan karakter-karakter ideal yang ada pada seorang mahasiswa yang diturunkan dari Konsepsi KM ITB dan cita-cita pendidikan yang di dalamnya termaktub tiga elemen besar yaitu Masyarakat Madani, Tridharma Perguruan Tinggi, dan Insan Akademis. Untuk itulah, kedudukan RUK di sini adalah sebagai tambahan untuk melengkapi profil umum yang telah ada.

 

 

Soft Skill Keorganisasian

 

Ada watak, sikap, dan keahlian yang harus dipunya untuk menunjang keberlangsungan sebuah organisasi, yang kemudian kita sebut dengan Soft Skill, dari beberapa literatur, maka dapat diturunkan beberapa soft skill dasar, yaitu:

1.       Communication Skill, baik verbal maupun non-verbal.

2.       Organizational Skill, berupa manajemen waktu, manajemen motivasi, dan manajemen kesehatan.

3.       Leadership, yaitu kepemimpinan efektif.

4.       Logic, yaitu kemampuan menyelesaikan masalah dan berpikir kreatif.

5.       Effort, berupa ketahanan kerja, asertif, dan kemauan belajar.

6.       Group Skill, meliputi kerja sama tim dan kemampuan interpersonal.

7.       Ethics, etika kerja.

 

 

Output Sumber Daya Manusia Kabinet KM ITB 2009-2010

 

Dari beberapa pengantar dan landasan objektif yang telah dijelaskan di atas, maka diturunkanlah profil umum sumber daya manusia Kabinet KM ITB 2009-2010 beserta parameter dan metodenya.

 

No

Output

Parameter

Metode

1

Religius

·   Ber-Tuhan dan beragama

·   Menjunjung tinggi dan mengaplikasi nilai-nilai agama dalam kehidupan

·   Mewujudkan keshalihan individu dan keshalihan sosial

·   Konsistensi kereligiusan

·    Merenung tentang makna hidup

·    Mentoring

 

2

Internalisasi visi-misi

·   Cinta Indonesia

·   Peduli permasalahan bangsa

·   Mempunyai mimpi tentang Indonesia ideal

·   Mempunyai cita-cita besar membangun bangsa

·    Membaca Platform Kabinet KM ITB 2009-2010

·    Mewujudkan budaya baca dan berwawasan tanah air

3

Continuous Improvement

·   Menerima pendapat konstruktif orang lain mengenai diri dan kinerja diri

·   Memberi masukan konstruktif mengenai orang lain dan kinerja orang lain

·   Menumbuhkan budaya menasihati

·    Microteaching

·    Aku Ideal, dia Ideal, aku begini, dan dia begitu

·    Analisis SWOT diri

4

Integritas

·   Katakan yang benar walau pahit

·   Refleksi diri sebelum menasihati

·   Menumbuhkan budaya tauladan

·   Pendekatan agama: Ash-Shaff ayat 2 dan 3, Hadist

·   Materi

·   Reward and Punishment

5

Militansi

·   Effort kerja yang tinggi

·   Aktif dalam bekerja

·   Ketahanan kerja yang tinggi

·   Manajemen motivasi

·   Materi

·   Reward and Punishment

·   Raport SDMK

6

Professional

·   Berusaha mempunyai skill sesuai bidang kementrian

·   Mampu manajemen waktu

·   Mampu manajemen kesehatan

·   Materi dan training

·   Manajemen waktu à Membaca bukuManajemen Waktu”: Anis Matta

·   Manajemen kesehatan à olahraga pekanan dan baca buku “8 Mata Air Kecemerlangan”: Anis Matta

7

Intelek, Kritis Solutif, Kreatif

·   Menemukan masalah-masalah di lingkungan sekitar

·   Merancang solusi permasalahan

·   Menyampaikan gagasan

·   Berpikir mendalam

·   Asertif

·   Studi kasus

·   Games

·   Materi

·   Simulasi rapat

8

Humanis

·   Menjaga perdamaian berbasis kekeluargaan

·   Mempunyai rasa peduli dan tolong-menolong

·   Mengenal, memahami, dan mendahulukan rekan kerja

·   Toleran dan menghindari perdebatan panjang

·   Materi

·   Membaca buku yang relevan

 

                                                                                                                                          

Souce Power Of The Leader: Sebuah Evaluasi

Pemimpin, sebuah kata yang sering kali kita dengar dalam sebuah komunitas, perhimpunan, organisasi, atau sebuah lembaga, ataupun sebuah pergerakan. Dalam setiap perkumpulan tersebut, pastilah yang pertama kali disorot adalah seorang pemimpin. Bagaimana watak seorang pemimpin sewaktu ia memimpin, dan bagaimana kinerja dan karya yang ia hasilkan sebagai seorang pemimpin.

 

Bagaimana seorang Soekarno memimpin negara Indonesia hingga terangkat di mata dunia dengan kontribusinya terhadap dunia, bagaimana pula seorang Mahmoud Ahmadinejjad menggerakkan rakyatnya untuk menentang tirani AS,  bagaimana seorang Hugo Chavez dengan tegas mengusir Duta Besar Israel saat Israel sedang asiknya membombardir Palestina, dan bagaimana seorang Rasulullah masih sangat dikagumi dan difanatikkan oleh sebagian besar ummat Muslim di jagad ini, sehingga berabad-abad lamanya setelah beliau meninggal, kaum Muslim masih konsisten menjalankan risalahnya.

 

Seorang pemimpin adalah seorang penuntun, pembimbing. Bahkan KBBI-pun mengartikan seorang pemimpin sebagai penunjuk jalan, atau pembimbing. Seorang pemimpin adalah seorang yang menuntun sesuatu yang ia pimpin untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan pada awalnya. Entah apakah tujuan itu benar atau salah, baik atau buruk, ataukah cara mencapai tujuannya yang benar atau salah, baik atau buruk.

 

Agar dipatuhi dan diikuti oleh yang dibimbing, seorang pemimpin haruslah mempunyai source of power, dalam artian, sumber kekuatan yang akan membantunya dalam mengarahkan yang dibimbing untuk bergerak mecapai sebuah tujuan.

 

French dan Raven (1959) mengemukakan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai lima source of power, yaitu:

 

1.       Expert Power, yaitu sebuah kekuatan berbasis expert (keahlian, keterampilan). Ini telah jelas, seorang pemimpin haruslah ahli dan menguasai apa yang ia pimpin, paham akan apa yang ia pimpin, dan mengerti filosofi apa yang ia pimpin. Hal inipun diiyakan oleh Jeffrey K. Liker (2004), seorang pengarang buku terkenal dalam bidang manajemen, The Toyota Way. Seorang pemimpin haruslah expert seminimalnya dalam bidang manajemen. Seorang pemimpin organisasi kemanusiaan, haruslah paham tentang antropologi dan sosiologi manusia, seorang pemimpin pabrik manufaktur haruslah punya pengetahuan yang luas tentang manufaktur, permesinan, biaya, operasi, dsb. Seorang dosen haruslah lebih luas pemahaman ilmunya daripada mahasiswanya.

 

Kesemua itu dibutuhkan untuk kekuatan menggerakkan, sehingga menumbulkan kepercayaan dan kewibawaan tersendiri dari yang dipimpin kepada yang memimpin. Rasulullah sebagai pembawa risalah Islampun sangatlah ahli dalam hal keIslaman, saat memimpin perangpun beliau ahli dalam mengatur strategi, dalam memimpin pemerintahan apalagi, dan dalam memimpin keluargapun ia ahli. Oleh karena itu, prinsip the right man on the right place sangat relevan untuk seorang pemimpin.

 

2.       Referent Power, yaitu sebuah rasa kesukaan yang dipimpin kepada yang memimpin. Ridwansyah Yusuf Achmad pernah berkata “anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya. akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya.” Mencintai apa yang dipimpin sangat diperlukan agar yang dipimpin-pun merasa suka dengan yang memimpinnya. Rasulullah adalah seorang pemimpin yang sangat mencintai yang dipimpinnya, ummati... ummati... ia sebutkan berulang kali bahkan hingga ajal menjemputnya.

 

Selain mencintai apa yang dipimpin, untuk dapat disukai oleh yang dipimpin, seorang pemimpin juga perlu menghindari virus-virus sosial. Anis Matta (2009) dalam bukunya, Delapan Mata Air Kecemerlangan mengemukakan bahwa seorang pemimpin harus bisa berintegrasi sosial dan mencapai kematangan pribadi, serta menghindari virus-virus sosial, yaitu angkuh, dendam, narsis, kasar (menyakiti orang lain), kikir, penakut, dan minder.

 

3.       Legitimate Power, yaitu kekuatan yang berbasis legitimasi. Seorang pemimpin yang terpilih berdasarkan legitimasi kuat akan dengan mudah menggerakkan yang dipimpinnya. Contoh legitimasi adalah presiden, ketua himpunan, direktur utama, dsb. Akan lebih ber-power jika memang yang memilih seorang pemimpin tersebut banyak dan dalam skala masif. Ini akan semakin memperkuat pondasi kekokohan seorang pemimpin di mata yang dipimpinnya.

 

Rasulullah diangkat terlebih dahulu oleh Allah menjadi seorang Rasul, barulah ia memimpin manusia untuk menuju risalahnya. Mungkin tidak bisa dibayangkan jika saat itu Rasul adalah orang biasa saja yang mengajak manusia untuk syahadat. Akan tetapi, itulah kekuatan dari sebuah legitimasi.

 

4.       Reward Power, yaitu kemampuan seorang pemimpin untuk menghargai yang dipimpinnya, memotivasinya untuk kemudian membangkitkan kinerjanya. Allah melalui Rasulullah (dalam Alquran) menjanjikan reward besar berupa surga yang indahnya tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh manusia kepada orang-orang Islam yang ikhlas dan menjunjung tinggi risalah Islam di muka bumi ini hingga ia mati.

 

Kekuatan ini juga yang digunakan seorang dosen agar mahasiswanya tergerak untuk memahami mata kuliah yang disampaikan dengan memberikan reward berupa nilai yang baik sesuai performance mahasiswa tersebut. Bahkan tidak jarang dosen yang memberikan nilai lebih kepada mahasiswa yang berjuang untuk memahami kuliahnya.

 

5.       Coercive Power, yaitu kekuatan yang timbul akibat adanya tekanan dari seorang pemimpin kepada yang dipimpin. Tekanan ini juga yang akan menggerakkan seseorang agar bergerak untuk mencapai tujuannya. Terlepas apakah dengan tekanan ini seseorang bergerak tidak ikhlas atau tidak. Allahpun menjanjikan neraka sebagai seburuk-buruk tempat kembali bagi seorang kafir dan munafik dalam menjalankan kehidupan di dunia ini.

 

Begitu pula dengan penekanan yang dikatakan Rasulullah dalam sebuah hadits, “...Barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” Begitu juga dengan seorang direktur yang memotong gaji karyawannya yang bermalas-malas dalam bekerja.

 

Baik Reward Power maupun Coercive Power, berhubungan denga teori motivasi yaitu Reinforcement Theory yang dikembangkan oleh Coch dan French (1948) setelah mengembangkan dari The law of effect karya Thorndike (1913).

 

Itulah basic of source power seorang pemimpin agar dapat menggerakkan yang dipimpinnya menuju suatu tujuan. Walaupun teori ini masih bisa dibantah kemudian, namun teori ini masih relevan sampai saat ini.

Yaa Ayyuhal Muzzammil...

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Israa’, 17:79)

 

Teman-teman sekalian, Allah SWT telah menganjurkan kita melalui ayat di atas untuk bertahajjud kepadanya di malam hari, terutama di seperiga malam terakhir, yaitu sekitar jam 2 sampai jam 4 dini hari. Banyak ayat di Alquran yang menerangkan tentang tahajjud ini, salah satunya ayat di atas.

 

Tahajjud bisa dibilang sebuah kesempatan yang nikmat untuk mendekatkan diri kepada Allah, curhat kepada-Nya, mengadu dan mengeluh kepada-Nya di tengah malam yang sunyi dengan khusyuk di saat orang-orang terlelap dalam tidurnya. Karena begitu dekatnya kita dengan Allah pada saat tahajjud, maka doa dan harapan yang kita panjatkan-pun insya Allah akan diijabah oleh Allah. Berikut beberapa keutamaan tahajjud:

 

  1. Menghapus dosa perbuatan-perbuatan buruk.

 

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud, 11:114)

 

  1. Mengangkat derajat kita di hadapan Allah.

 

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. al-Israa’, 17:79)

 

Masih banyak keutamaan tahajjud yang tidak dicantumkan dalam tulisan ini. Yang pasti, pada awalnya tahajjud ini diwajibkan oleh Allah SWT (QS. Al-Muzzammil, 73:2), namun, setelah turun ayat 20 pada surat yang sama, tahajjud menjadi sunnah. Maka, terbayang khan pentingnya tahajjud.

 

Nah, setelah tahu keutamaan tahajjud, sekarang mari kita sama-sama belajar mengenai tips-tips membiasakan tahajjud, dari mulai tahap awal seorang “pemula” tahajjud hingga seorang “master” tahajjud. Berikut tips-tipsnya:

 

  1. Niatkan dan azzamkan

Rasulullah sudah sangat mewanti-wanti dalam hadistnya, tentang niat, yaitu segala amal tergantung niatnya, niat ini bisa menjadikan dua hal, pertama, diterima atau ditolaknya sebuah ibadah, dan yang kedua, terlaksana atau tidaknya sebuah ibadah.

 

Niat yang ikhlas untuk mendapat ridha Allah akan membuat sebuah ibadah bernilai amal shalih dan diterima oleh Allah SWT, sebaliknya, jika tidak ikhlas, ibadah akan tertolak. Niat yang ikhlas karena Allah ini selanjutnya akan mengalir menjadi semangat untuk menggerakkan kita melakukan suatu ibadah, karena ridha Allah adalah suatu cita-cita besar seorang muslim, maka seharusnya niat mendapat ridha Allah menjadi aliran darah semangat tersendiri bagi diri.

 

Seorang bijak pernah berkata, “Ini tidak akan terlaksana jika kalian tidak menganggap ini penting.” Terkait azzam (tekad yang bulat), maka sudah seharusnya sebuah niat diiringi tekad sebagai katalisator pembentuk pergerakan, tekad ini juga menunjukkan kesungguhan seseorang atas apa yang diniatkannya. Rasulullah pernah berkata, “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil.”

 

Jadi, sebelum tidur, saat mata akan terpejam, niatkanlah dan tekadkanlah dalam hati untuk bangun tahajjud. Tambahkanlah tekad yang bulat itu dengan tawakkal kepada Allah, wujudnya dengan berdoa dan menggantung harapan kepada Allah, mudah-mudahan Dia memudahkan kita untuk bangun.

 

  1. Hindari kekenyangan sebelum tidur

Pada tau semua lah yaa, kalo kita sedang dalam kondisi kekenyangan abis makan, maka yang timbul tiada lain adalah rasa kantuk dan malas. Itu hal yang manusiawi, yang memang tidak dapat kita hindari, jadi tinggal bagaimana kita menyiasatinya saja. Untuk itu, hindari makan kenyang yang dekat dengan tidur. Kalau bisa, makan malamlah paling telat sekitar dua jam sebelum tidur.

 

  1. Berwudhu sebelum tidur

Tidur dalam kondisi bersih juga dapat membantu kita mudah bangun. Sebelum berwudhu, ada baiknya juga sikat gigi dahulu, kemudian setelah wudhu, bisa juga diikuti dengan shalat witir satu atau tiga rakaat sebelum tidur, menjaga apabila kita tidak dapat bangun untuk tahajjud, atau bisa juga dengan tilawah sekitar satu sampai dua halaman sebelum tidur.

 

Intinya, kita harus tidur dalam kondisi yang sangat baik, sehingga membuat nyaman dan membuat tidur juga lebih nyenyak, sehingga bangun lebih segar.

 

  1. Cepat tidur, cepat pula bangunnya

Rasulullah membiasakan diri untuk tidur cepat dan bangun juga lebih cepat. Sekitar jam 9 malam Rasul telah siap untuk tidur dan menghindari bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya sekalipun, dan telah bangun sekitar jam 1 malam untuk selanjutnya tahajjud.

 

Mungkin ini hal yang kecil, tapi berdampak cukup besar. Tidur lebih awal akan membuat kita lebih segar saat bangun. Tidur lebih cepat bukan menambah waktu tidur dan mengurangi waktu aktivitas, akan tetapi hanya menggeser waktu tidur dan waktu aktivitas. Yang biasanya kita belajar sampai jam 1 malam dan baru bangun sekitar jam 5 pagi, lebih baik tidur jam 11 malam dan bangun jam 3 pagi, toh sama-sama empat jam.

 

Pada malam hari, sekitar jam 11-12 malam, tubuh kita mengalami puncak produksi sel darah merah, yang akan membawa oksigen dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. Maka, akan lebih baik jika pada jam itu, kita dalam keadaan tidur, sehingga darah segar akan mudah diproduksi dan diedarkan ke seluruh tubuh, sehingga bangunpun kita akan merasakan kesegaran dan tidak merasa kantuk, percaya deh. Itulah mengapa Rasul selalu tidur lebih awal untuk selanjutnya bangun lebih awal. Dan mungkin itulah sebab mengapa Rhoma Irama menciptakan lagu, “begadang jangan begadang.” Hehe..

 

  1. Gunakan teknologi dong...

Hari gini ga punya alarm? Beuh, kebangetan. Tinggal buka handphone, cari fitur alarm, setel alarm untuk tahajjud, dan jauhkan hape dari tempat tidur, sehingga membuat kita harus bangun dan berdiri untuk mematikannya.

 

Ada baiknya nada alarm yang disetel membangkitkan semangat dan mengagetkan, mungkin lagu rock, hehe.. Sangat baik apabila nada alarm hape kita untuk membangunkan tahajjud adalah lantunan merdu Alquran, seperti surat Al-Muzzammil.

 

Yaa ayyuhal muzzammil, qumillayla illaa qoliila, nishfahuu awinkush minhu qoliila...

 

Hmm.. perasaan gampang deh nyari mp3 murottal Alquran, cari aja ke temen2, atau di internet, atau di trotoar jalan ganesha, yang deket2 tempat jual DVD game. Apalagi kalo hari Jum’at, banyak banget. Coba sekali2 baca dan pahami arti surat Al-Muzzammil, surat ke-73 dalam Alquran.

 

Gunakan juga alarm berlapis jika perlu. Pokoknya paksa deh diri kita supaya kita bangun, he..

 

  1. Tidur berkualitas

Cobalah tidur dalam keadaan bersih, dan tidurlah lebih awal. Trus, posisi tidur juga menentukan kualitas tidur kita. Posisi menetukan prestasi. Tidur sesuai cara Rasul adalah yang paling baik, jangan ada organ tubuh yang tertindih bagian yang lain saat tidur, untuk itu, Rasul tidur dalam keadaan terlentang. Bosan tidur terlentang? Rasul juga sering tidur miring, yaitu miring ke kanan, mengapa? Coba raba jantung kita, letaknya di mana? Yap, sebelah kiri. Maka, tidur miring ke kanan sangatlah melindungi jantung, karena jantung tidak tertindih oleh bagian tubuh lain. Cerdas khan Rasul...

 

  1. Begitu bangun, langsung wudhu dan shalat

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa orang tidur itu terikat oleh tiga ikatan. Ikatan pertama lepas saat ia terbangun dari tidurnya, ikatan kedua lepas jika ia berwudhu setelah itu, dan ikatan ketiga lepas saat ia shalat setelah itu. Hmm.. Jelas banget ya. Jadi, kalo udah melek, jangan liat-liat bantal dan kasur lagi, langsung bangkit dan berwudhu, kemudian shalat sunnah, atau langsung tahajjud juga boleh.

 

  1. Mulai dari yang ringan

Jangan paksakan diri kita. Jika menjadi pemula, memang sangat berat godaannya, maka mulai tahajjud dari yang ringan aja dahulu, cukup dua rakaat dengan bacaan surat pendek dalam juz ‘amma, dengan witir satu atau tiga rakaat.

 

  1. Buat suasana romantis...

Waktu untuk berdua dan curhat pada Allah jangan sampai tidak maksimal, buat suasana romatis saat melakukan tahajjud, matikan lampu yang terang, nyalakan lampu redup, kalau perlu, matikan hape, biar ga ada sms atau telepon yang berdering saat kita shalat. Fokuskan perhatian tahajjud, berusahalah semaksimal mungkin untuk khusyuk. Cepat2 tepis pikiran-pikiran yang masuk yang dapat mengganggu saat spesial itu. Begitu juga saat kita curhat dan berdoa.

 

  1. Habis itu, jangan tidur ya

Ini nih, yang biasanya kita lakukan setelah tahajjud, tidur! Ya kalo tahajjudnya jam setengah 2 terus tidur dan bangun lagi jam 4 untuk sholat subuh sih sah-sah aja, tapi kalo selesai tahajjud jam setengah 4, trus tidur, kemungkinan besar subuh kita akan telat. Sayang banget khan, kita tahajjud, tapi subuh telat, udah dapet pahala, trus dapet dosa, hehe..

 

Makanya, habis tahajjud, mari gunakan dengan kegiatan yang bermanfaat sambil nunggu adzan subuh. Bisa dengan tilawah, atau baca-baca buku kuliah, mengulang materi kuliah, buka-buka facebook (tapi jangan main game), yang terakhir tidak disarankan, hehe..

 

  1. Konsistensi

Hmm.. transformasi dari pemula menjadi master memang membutuhkan effort yang tidak kecil, lawannya tidur pula. Tapi setelah menjadi master, untuk mempertahankan menjadi master, juga sama, effortnya besar, bahkan boleh jadi lebih besar. Yap, perjuangan itu ada tiga, pertama saat memulai, kedua saat mencapai, ketiga saat menjaga. Berat? Memang. Tapi itulah harga mahal yang harus dibayar agar Allah meridhai kita dengan surga-Nya. Banyak koq orang-orang yang sudah konsisten dalam tahajjud. So, ini membuktikan bahwa hal ini tidaklah sesulit yang dibayangkan.

 

Allah sangat menyukai ibadah yang konsisten, meskipun kecil. Jadi, sangat baik apabila kita konsisten bertahajjud. Ya kalo ga bisa tiap malem, seminggu tiga kali aja, yang penting konsisten.

 

  1. Tularkan

This is the finishing touch. Jangan kemaruk, mari tularkan keshalihan diri menjadi keshalihan sosial, mari tularkan kebaikan yang ada di diri kita menjadi kebaikan lingkungan. Ingat, cukup yang ada pada diri kita, jangan yang ga ada ditular-tularkan, he.. Yap, klo kita udah berhasil konsisten, atau tidak konsisten sekalipun, asal jalan (apa bedanya?), mari tularkan kepada lingkungan kita. Minimal keluarga kita.

 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(QS. Al-‘Ashr, 103: 1-3)

 

Jadi, hakikatnya, keshalihan bukan hanya milik sendiri. Untuk beruntung, ga cukup cuma beriman dan beramal shalih, tapi perlu saling tular-menular kebenaran dan tular-menular kesabaran (sabar berarti juga sabar dalam menjaga kekonsistenan beriman, beramal shalih, dan menasihati dalam kebenaran).

 

Yap, terima kasih sudah mau membaca panjang-panjang. Tapi, intinya mah, hayu kita terapkan, implementasikan, khan udah tau tips-tips dan langkah-langkahnya. So, met mencoba!

 

 

 

 

MENUJU PEMILU 2009: Menjadi Pemilih Yang Cerdas

 

Pemilihan umum sebagai bentuk nyata pesta demokrasi telah sebentar lagi akan kita lakukan. Berbagai persiapanpun sudah dilakukan maksimal, baik dari penyelenggara, maupun dari calon. Kartu suara telah didistribusikan ke daerah masing-masing, begitu juga kotak suara, dan daftar pemilih tetap. Tidak mau kalah, para calonpun ramai-ramai memasang media promosi dirinya agar terpilih untuk menduduki jabatan tertentu. Tidak ketinggalan dalam meramaikan suasana pemilu, Fatwa MUI yang mengharamkan golput-pun ikut menjadi pemanis suasana.

 

Sekarang, inti pemilu ada pada diri kita masing-masing, rakyat, sebagai objek sekaligus subjek dalam sistem demokrasi, terlepas apakah demokrasi itu jauh ataupun dekat dengan Islam. Kita-lah yang seharusnya menentukan arah nasib bangsa ini kedepannya dengan mempercayainya kepada para anggota legislatif yang insya Allah akan kita pilih nantinya. Ada satu kata yang menarik di sini, yaitu mempercayai. Ya, pada hakikatnya, pemilu bukanlah ajang memperkaya seseorang karena ia terpilih menjadi aleg (anggota legislatif, red.), pemilu bukan juga ajang unjuk kekuatan partai atau komunitas, bukan juga ajang meraih kekuasaan, akan tetapi ajang memilih, memilih orang yang akan kita percayai untuk mewakili kita. Tentunya, orang yang kita pilih haruslah orang yang amanah (dapat dipercaya).

 

Karena hal ini berkaitan dengan nasib bangsa ini kedepannya, haruslah kita menjadi pemilih yang cerdas. Apa yang harus dilakukan agar menjadi pemilih cerdas ?

·         Ta’aruf, maksudnya kenalan (tak kenal maka ta’aruf). Maksudnya adalah, kenali setiap partai yang ikut ke dalam pemilu. Kalau bisa sedetail mungkin. Hampir semua partai peserta pemilu sudah mempunya website, oleh karena itu, tidak ada alasan sebenarnya untuk tidak mengetahui partai, setidaknya partai yang cukup famous.

·         Tafahum, maksudnya adalah memahami. Pahami partai yang sudah kita kenali. Pahami visi-misi-tujuan yang jelas dari partai-partai itu. Dan telusuri juga ideologi apa yang diusung partai tersebut, dan sejauh mana partai tersebut konsisten mempertahankan ideologi tersebut, dan sejalan atau tidak ideologi tersebut dengan ideologi kita, Islam. Sebab, tujuan kekuasaan adalah untuk eksistensi ideologi. Karena kita Muslim, sudah seharusnya kita pilih partai yang sudah jelas berideologi Islam.

·         Kenali juga track record partai tersebut, apakah partai tersebut pernah terlibat kasus negatif atau tidak, apakah partai tersebut konsisten dalam melakukan aksi sosial atau tidak, apakah kader partai tersebut pernah terlibat kasus atau tidak, apakah kader-kader partai tersebut pernah berprestasi atau tidak. Sistem kaderisasi suatu partai atau organanisasi selalu general, dalam artian, capaian kader yang dihasilkan tidak terlalu berbeda. Oleh karena itu, jika kader-kader suatu partai tidak pernah terlibat kasus (korupsi, suap, dsb.), insya Allah kader lainnyapun tidak, jika kader suatu partai berprestasi, maka insya Allah, kader lain (dalam satu partai) yang menjadi calon dalam pemilu juga akan berprestasi.

·         Rajin-rajin baca buku tentang pemimpin dalam Islam. Dari situ, kita dapat mengetahui kriteria-kriteria apa yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi pemimpin (dalam hal ini, legislatif, red.) yang sesuai dengan Islam.

·         Jika kita sudah menentukan pilihan, maka bulatkan pilihan itu dengan melakukan shalat Istikharah, untuk meminta Allah untuk menetapkan dan meyakinkan hati kita dalam pilihan tersebut, karena biar bagaimanapun, Allah-lah Yang Maha Mengetahui segala yang baik dan yang buruk.

 

Memilih dalam pemilu bukanlah perkara sepele yang mudah ditetapkan hanya dalam waktu satu jam sebelum mencontreng, atau malah menggunakan random sampling untuk memilih wakil rakyat. Kitapun sebagai pemilih nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak atas pilihan kita. Jika kita memilih dengan cerdas dan ingin mengharap ridha Allah, maka insya Allah itulah langkah terbaik yang harus dilakukan. Ingat, nasib bangsa kedepannya, ada di tangan rakyat (kedaulatan rakyat) yang memilih wakil-wakil/pemimpin yang tepat dengan cara yang cerdas. Selamat memilih dengan cerdas !

7 Indikator Kebaikan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :


Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.


Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!


Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.


Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.


Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.


Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.


Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.


Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.


Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

 

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.


Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.


Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.


Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.


Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.


Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.


Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.


Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.


Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.


Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.


Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

 

http://kebunhikmah.com